25 Des 2010

18. Mendengar

Aku suka mendengar liliran mengumpulkan nyawa darimu yang mencoba beranjak dari lelap di ujung sambungan seluler. Dapat kucium aroma tidurmu yang apek dan asam ngangenin itu. Nada suaramu merajuk, merengek. Manja!

(25 Desember 2010)

24 Des 2010

Another First Date

"Maaak Ijah pake baju rombeng!!!"

Begitulah lontaran kata yang berjajar dalam benakku saat kau kabari aku siang tadi. Tanpa sadar deg... deg... deg... mengalun di rongga dadaku, aliran darah terasa sekali menyusuri setiap denyutku.


"Buuuuun, tolongin... Aku pake baju apa ya?"
"Yang sopan, gak lahak"
"Oke, tunggu sebentar ya. Nanti aku mix and match dulu, nanti bantu pilih"
"Oke!"
"Omaygat!!! Ini aku kaya mau first date deh ya? Hwahahahaha"
"Hahahahaha. Gak apa-apa biar kamu semangat"
"Hihihi. Makasih, bentar ya"

Kususun beberapa helai pakaian yang aku rasa pantas. Kupadu-padankan agar serasi dan tentu saja, sopan. Foto, send and share. Bukan manipulatif hanya tidak ingin misinterpreted.

"Nih. Mana? Pertama, kedua, atau ketiga? Ketiga ya?
"Yang kedua aja, ketiga manis tapi terlalu santai. Itu lahak gak yang kedua?"
"Nggak ko. Nggak lahak"
"Oke, yang kedua tapi bawa jaket atau apalah soalnya kan biasanya teater dingin"
"Oke deh! Terima kasih darling. Muah muah dah!"
"Kaya mau ngapain aja dah"
"Hihihihi"

Ya... Yang sulit adalah mental. Fuh... Fuh... Fuh... Jauh-jauh tampang pongo! Kayanya akan berakhir dengan pipi kaku hasil senyam-senyum mesam-mesem kikuk. La... La... La... Wish me luck! *smooch


(Jumat malam, groginya udah di mulai. Dasar bodoh!)

19. Diyakinkan

Aku suka diyakinkan dengan "tapi kan nggak beneran" atau "gak penting itu/dia". I put my trust on you.

(24 Desember 2010)

23 Des 2010

Bukan Karena, Tapi Padahal

Saya ingat masa kuliah, ada seorang dosen yang agak beda. Sulit memahami materi yang di sampaikannya. Sering tidak terkait dengan bahasannya. Penilaiannya entah bagaimana, objektif kurang, subjektif pun rasanya tidak terlalu. Nilai mata kuliah dia adalah peruntungan dan doa.

Jadi, beginilah saya. Dari dia, hanya sedikit materi kuliah yang saya serap, cari tahu sendiri adalah cara cerdasnya. Dia lebih sering menggambarkan materi pada hal nyata. Saya, dan teman-teman sekelas tau dia sangat mencintai istrinya sampai sekarang. Dia ceritakan itu, dan terpancar dari sorot matanya saat dia larut bercerita. "Dalam mencintai, sebaiknya jangan 'karena' tapi 'padahal'. Saya mencintai istri saya karena dia cantik, baik, penyabar. Itu lumrah. Saya mencintai istri saya padahal dia gembrot."

Ledakan tawa dan kekaguman kepadanya seketika itu bersorakan. Tepuk tangan kami pun menutup kalimat itu. Kagum saya atas pelajaran dari Bapak Husein Nawawi, dosen Komunikasi Politik, Teori Komunikasi, Komunikasi Kelompok, Analisis Sistem Informasi, Sistem Informasi Pemasaran dan hidup. Jadi, sekali lagi quote-nya begini:


Mencintai itu bukan 'karena', tapi 'padahal' - Moch. Husein Nawawi

Satu hal yang juga aku ceritakan padamu. Dan kamu menyerapnya dengan baik. Semoga bermanfaat. Bagi kita, bagi kecintaan kita pada siapapun yang bukan karena tapi padahal.

In my brain
I see your face again
I know my frame of mind
You ain't got to be so blind
And I'm blind, so very blind
I'm a man
Can't you see what I am
I live and breathe for you
But what good does it do
If I ain't got you, ain't got you
(Michael Bolton)




(Kamis pagi, dingin menusuk tulang membawa memori masa lalu)

20. Sikapmu

Aku suka sikapmu terhadap mamamu. Such a good boy and his greatest mom. Mengajariku banyak hal. Ingat pesanku sore ini untuk tetap begitu ya! Oiya, sebenarnya aku juga suka beliau, yang kau beri kesan 'anker' itu.

(23 Desember 2010)

22 Des 2010

Pulang

Kemarin malam. Mengarungi ibu kota, menerjang malam. Kebersamaan yang tak lebih dari dua jam. Menggulirkan aku dalam kenangan pada rutinitas pulang kantor yang dilakoni sepasang muda-mudi ibu kota. Pulang bersama, singkatnya.

Awalnya Kebon Jeruk, pertemuan Jalan Panjang dan Kedoya. Selepas magrib meluncur ke sana. Mendapati kamu sudah duduk di tembok pembatas jalan bebas hambatan. Kadang mengunyah roti, mengganjal lapar hingga tiba di rumah.

Sore hari selalu kau ingatkan aku untuk bergegas selesaikan tugas dan temui kamu di sana. Tak jarang aku minta kau menunggu hingga kantormu tutup. Suatu hari hingga menjelang tengah malam kau tertidur di lobi gedung menunggu aku selesai. Itu yang mereka ingat. Tak terulang lagi. Terlalu manis.
Dukuh atas, BNI 46, Sudirman Park titik ideal bertemu karena Rasuna lebih jauh dari Sudirman. Di masa ini, semua lebih mudah, tapi tidak rutin, jarang-jarang. Hanya jika aku rindu padamu lalu bergegas atau memperlambat kerjaku agar pas seperti tidak sengaja pulang bareng kamu. Tidak lagi manis. Karena sudah lelah. Masa krisis.

Selanjutnya, dimana lagi meeting point kita, mu? Kemarin sempat kau ucapkan Kalimantan. Terpisah lautan.


(Rabu malam hujan membangkitkan dinginnya kerinduan)

Untuk 22 Desember

Dia yang bukan korban sinetron
Berpesan 'Jangan pernah matre'
Aku sayang dia karena aku sayang dia
Ini apriori lain setelah kebenaran akan Tuhan
Tidak perlu dipertanyakan
Hanya titik di akhirnya
Tanpa alasan
Tanpa balasan
Titik


(Sore Hujan, semua ramai mengelu-elukan dianya dan aku seketika merindukannya)