5 Jan 2011

Rabu Depan



Kali pertama, kisah perdana
Si gadis merengek manja
Ingin cicipi serabut arumanis
Kenakan gaun menawan
Keliling kota hingga larut
Mengejar pijar kerling malam
Berharap jadi dewi malam
Bukan muluk efek sinetron
Sekedar sehari tidak biasa
Enggan berkata diam meraja
Damba tak juga padam
Merapal doa agar tak lupa
Pekan depan tahun kedua


(Rabu Malam. Selayak anak-anak banyak maunya tapi hanya diam, berkoar di sini. Hahaha)


Dalam Saat

Dalam saat, kala dunia tidak ada mereka melainkan kebisuan malam tanpa riuh rendah penghuninya, sebuah sinar terang terpancar dari sorot mata tulus kasih. Tanpa ragu, tetap malu-malu mengantar hasrat yang tersimpan jauh di dasar kotak asa. Hasrat istimewa hanya untuk perjumpaan-perjumpaan kilat mengantar keteduhan pada terik kepasrahan.

Ketika sorot berpijar, sinar itu bergegas meneguk rakus hangat tak bersyarat yang hanya dilatari rindu seraya menyeringai menang. Tanpa ampun mencumbui sendu dalam rebah binar kepuasan hingga peluh menghentikan. Mengantar kesungguhan untuk serta-merta mengikat tubuh dalam dekap tak terelakan, terkunci sebelas menit. Mengisi pundi-pundi dahaga untuk cadangan beberapa musim diam.

Hanya jika gulita hilang gempita, terasa hangat menyapu dingin. Hanya dibalik perisai besi berselimut malam, sorot rindu menggebu mohon lepaskan penat. Saat sepi meraja, hasrat tanpa ampun ajukan pelepasan tanpa penolakan. Namun bumi tak begitu kosong, hasrat menjadi tabu rahasia dalam kotak asa dan sinar pun hanya jadi remang antara gelap dan terang, samar.



(Rabu pagi, cerita kisah tadi malam)




Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

7. 'Selamat Tidur'

Aku suka 'selamat tidur' penutup setiap cerita malam mengawali tubuh merangkak pelan tinggalkan sadar dalam rebah jemu lelah untuk pejamkan hari jemput lelap.

(5 Januari 2011)

4 Jan 2011

Empat Perlima Berkisah



Sekali jumpa seraya satu malam bersekongkol melebur asa. Menaklukan gempita dalam malam sunyi senyap mencumbu sosok gelap dalam curiga dan waspada. Berjaga-jaga siap sedia. Jika sewaktu ilusi datang menyergap.


Mulai dengan ujung jari menjelajahi selapis tipis permukaan kulit, merasakan teksturnya. Kadang kenyal dan lembut beberapa bagian tapi kasar agak kisut bagian lainnya. Jamah lembut sentuhan halus geliat jemari mengusik lelap. Menciptakan alur gerak memutar menggelitik, menanti bangunnya roman. Sedikit hangat bercampur geli, kadang dingin dan lembab membiarkan roma bangkit bergidik sesaat melayang dalam buai sensasi raba.

Napas menghirup seruak feronom terpompa masuk bersama udara lembab bercampur peluh dan aroma tengik kulit kepala meninggalkan jejak seberkas makna. Menyisipkan tugas tafsir dalam tiap hirupan pada otak. Tercium kerja keras dan kesungguhan, anyir busuk bangkai hanya semilir lewat musim kemarau. Aroma segar sabun mandi gambaran semangat menyambut esok, terselip putus asa dan kegugupan. Samar, tertutup semerbak parfum pemicu gelora api semangat. Selintas lalu ada aroma manis bunga asing tak sengaja terhirup. Haruskah ditafsirkan?

Dalam sunyi ada bisikan halus diam-diam bersembunyi dalam gelap sempit. Serupa ajakan memadu cinta bertukar rasa melebur jiwa. Perlahan tapi pasti mengunci telinga agar tetap terngiang. Senandung nada kasih kecoh cemooh. Merdu lagu cinta serasa kisah sendiri. Semakin lama semakin pekat, meyakinkan hati akan sejati. Desah lelah kebenaran saling susul berpacu sampai gendang telinga. Hanya saat dunia tak ada yang lain, dalam sunyi rintih manja berani sampaikan rindu yang terpasung dalam diam.

Lidah menjulur, ikut berpesta. Asin saat menjelajahi kulit berbasuh peluh sebelum meninggalkan bau asam. Rasa tembakau, entah mengapa masih terasa walau telah ditinggal berjam-jam. Menggerakan lidah, menyusuri setiap senti rongga mulut bertukar saliva, bertaut saling icip rasa. Mengecap dan mengira santapan terakhirnya. Pekat kopi masih terasa di ujung lidah. Sisa coklat menempel di gigi memberi rasa manis. Cerna bersama seluruh kumannya, bukankah ini nikmat berbagi? Sedikit luka bibir yang terkelupas meninggalkan rasa besi. Luka masih belum kering, tercicip rasa darah.

Kulit, hidung, telinga, dan lidah membawa kisah separuh. Pejamkan mata dan sesapi rasa, fantasikan lainnya dalam mata tertutup. Melihat hanya ilusi, memandang muslihat halusinasi. Dengan mata tertutup kukecup nikmat empat perlima bulat. Sensasi ketidakutuhan yang dirasakan hati dan ditafsirkan otak.



(Senin malam, menimbang-nimbang)

8. Jalan

Aku suka jalan dibelakangmu lantas kamu akan mengarahkan tanganmu kebelakang walau pandangan tetap ke depan dan tanpa menoleh sambil seolah berisyarat minta disambut dan berkata "Sini tangannya, gandengan biar gak ilang" :')

(4 Januari 2011)

3 Jan 2011

Peppy, Sudahi Perihmu


Dear Peppy,
Hari ini aku mendapat celah untuk berkesampatan menyelamatkanmu dari sedikit luka yang kau buat sendiri. Maaf jika ini kejam. Aku, tak tahan kamu sakit terus. Dan kamu tak akan pernah peduli ceramah panjang berjam-jam tengah malam.

Kamu bilang sakit saat tau mereka semakin memupuk cinta dan kau dilanda kehampaan. Ibarat mulut sudah sampai berbusa ku sampaikan ketidaklayakan dia untukmu. Kalimatku hanya angin lalu yang samar kau serap.

Demi jagat, tidak ada alasanku untuk membenci 'pria terbang' itu. Pun kenal tidak. Tapi aku gusar melihatmu, sahabat. Tubuhmu habis digerogoti cemburu. Kulitmu panas terbakar apinya. Memang sih, tau apa aku. Merasakannya saja belum. Semua kamu yang rasa.

Jadi, kali ini aku harus turun tangan saat ada kesempatan. Agar tidak ada lagi kehadirannya yang hanya mengiris hatimu yang hampir habis. Kau pun tau, telah kusapu pecahan beling (botol kecap murahan) itu. Hanya agar tidak melukai dirimu hingga tetanus berujung amputasi.

Aku memang kejam, tapi sungguh aku sayang kamu. Maafkan kelancanganku.



(Senin Siang. Kembali bersinarlah miiih... Aku rindu kamu. Tapi jarak memisahkan kita)



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Lubang Kunci



Ruang hati harus tetap terjaga. Ditutup rapat-rapat. Hindari pencurian segala modus. Tapi nyatanya kubiarkan selubangan celah terbuka. Kubiarkan sebelah mata menerawangi tubuh di dalamnya. Sebuah celah yang menggoda. Membuat penasaran mereka yang melintas. Sebuah celah, seukuran mata kunci, lubang kunci.

Lubang kunci tetap setia dengan prinsip kerja alat intip. Sejati membiarkan sebola mata merapatkan diri, mengamati yang ada di dalamnya. Tanpa tau sosok utuh dibaliknya. Tubuh di dalamnya bahkan tak sadar ada delik yang mengamati geliatnya. Melucuti helai demi helai selubungnya. Menjadikannya bulat-bulat dalam kepolosan.

Derit bilik mengejutkan tubuh, menyadarkan dalam ketelanjangan yang telah terlanjur direguk hampir nihil. Berharap belum terlambat, disumbat celah dengan sigap, walau nyatanya terlambat. Terlanjur bugil. Keburu dilucuti. Selayaknya lubang kunci, ada keterbatas arah pandang. Masih ada sudut lancip luput dari penyisiran sebola mata.

Lubang kunci itu telah sumbat. Ditutup segala celah intip alat intainya. Temukan kunci yang pas, singkirkan penyumbatnya, masukan kunci ke celah selubangan itu, lalu putar searah jarum jam perlahan, dan dorong lembut papannya. Cara yang tersisa untuk menyibak sepenuhnya tabir isi ruang jiwa sebentuk hati ini.



(Minggu malam. Semua akan baik-baik saja jika kita baik-baik saja. Hari ini baik.)




Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT