13 Jan 2011

Polisi Tidur


Aku kenalkan pada seseorang. Namanya Astari. Pipinya bulat tubuhnya padat. Wajahnya bocah. Tergila-gila pada roti dan fotografer. Saat bersamanya, kita seperti mendengar siaran radio 24 jam non stop tanpa add-lips. Semua di bahasnya. Ini karena informasi yang didapatnya terlalu banyak, hingga luber kemana-mana. Kadang dia adalah engine search pribadi ku. Dia juga jukebox dengan playlist yang selalu di-update.

Well, masih banyak yang unik dari dirinya. Dan banyak pula kekesalan yang sering ditimbulkannya. Hahaha. Tapi tak seberapa. Belakangan ini dia punya peran baru. Profesi baru sepertinya. Dia adalah polisi tidurku.

Polisi tidur, itu julukan yang dia nobatkan sendiri untuknya tadi pagi. Agak ambigu memang. Sambil bercanda kusebutkan persamaan polisi tidur yang terbentang di jalan dengan polisi tidur yang diperankannya. Keduanya sama-sama menggelembung, mbelendung, kembung. Hahaha.

Semacam polisi, dia mengawasi ketertiban tidurku. Sedikit berkisah, tidurku agak bermasalah akhir-akhir ini. Dia tau pasti seberapa minim aku jatuh terlelap. Juga paham apa akibat dari semua ini. Ya, ini bukan kali pertama. Dulu, saat masih satu kosan, dia tau aku pasti tidak bugar karena gangguan tidur ini. Aku menderita darah rendah. Kadang jika kambuh kesulitan tidur akut ini, aku seharian tidak keluar kamar. Kadang makan pun minta titip saja. Keseimbanganku terganggu, kadang gelap (derita hipotensi).

Beberapa hari ini dia selalu menanyakan jam berapa aku tidur, jam berapa terbangun (yang belum saatnya), jam berapa melanjutkan tidur, hingga jam berapa akhirnya bangun. Dia sering memergokiku yang masih berkeliaran tengah malam. Tidak ada sanksi yang diberikan. Hanya menyisakan bahagia. Walau tak selalu bersama, masih merasa perhatian yang sama.

Ps:
Hey kamu, dalam beberapa hal kami (aku dan adik) merasa kau jauh lebih dewasa menghadapinya dibanding kami semua. Kamu istimewa, tapi coba bersahabatlah dengan dunia normal. Hahaha. Terima kasih ya... Sayang kamu! *bibir mulai gemetar


(Kamis Malam. Ngantuk bikin inget harus laporan ke kamu bahwa tidurku perlahan membaik)

Sekedar Cerita



Kepada kalian yang aku rindukan,

Berceritalah... Kisahkan saja tentang langit, udara, atau apa saja yang tertangkap mata. Bagaimana warna langit di atasmu? Suara apa yang mengalun merasuki telingamu? Bagaimana hujan membasahi kulitmu? Kisahkan tentang Si Dia atau Si Menyebalkan atau apa saja.

Ceritaku pun tak kadang hanya sebatas hari-hari biasa yang coba aku cari bedanya. Kadang semut merangkak pun jadi topiknya. Ya, terlalu banyak yang aku ceritakan. Kadang otakku langsung terhubung dengan orang tertentu saat aku mendapati satu hal yang mengingatkanku padanya. Mungkin kalian bosan, hingga habis kata untuk sekedar memberi respon. Jujur, kalau sudah begini aku tau diri lalu menarik diri.

Berkisahlah kapan saja. Bukan hanya saat pelik, ceria pun sangat menarik. Saat berkisah kita ciptakan permainan. Permainan 'dengar dan bayangkan'. Ajak main sedikit otak yang lelah. Putar dia pada rekaman peristiwa yang baru terjadi. Perhatikan detailnya, kisahkan. Manusia, dengan seluruh alat inderanya meresapi apa yang ditangkapnya. Dan lihat, setiap hari adalah berbeda. Setiap hari adalah menarik, jika tidak diabaikan.

Dan aku sangat tertarik pada kisah akan hari-hari kalian. Kendala keruangan, tidak membiarkan kita berbagi udara yang sama. Manipulasi jarak, kelabui ruang. Ceritakan apa saja, nyanyikan kembali senandung angin. Khayalku pun menari-nari, menciptakan panggung sendiri. Ruang dimana kalian ada di situ. Jadikan aku seolah di sana. Seolah jarak hanya ilusi yang menampilkan kehadiran halusinasi. Perjumpaan nyata mungkin tidak terlalu penting jadinya. Ya, waktu menjadi kendala. Aku paham benar.


(Kamis malam. Datanglah tanpa sebab)

Baru

Bersiap menjalani fase baru. Ada yang siap menyambut kita di depan. Entah itu kendala atau justru peluang. Intinya, dia adalah perubahan. Tentu saja menuntut adaptasi kembali. Penyesuaian. Penerapan pola-pola baru.

Intinya adalah masalah keruangan. Kendala jarak dan waktu. Rutinitas baru, tentang bagaimana membagi waktu. Keterbatasan waktu diperkirakan semakin tidak berjeda. Lingkungan baru, orang-orang baru membentuk kebiasaan baru.

Setidaknya kemarin pola-pola berbeda telah dilalui. Pola yang menuntut untuk berubah. Perubahan yang tidak berpengaruh pada rasa.

Sepertinya kuncinya akan sama

Sedikit waktu untuk mengelabui jarak



(Kamis pagi. Ingatkan diri untuk bersiap)

12 Jan 2011

Untuk Kamu


Jika Mark Zuckerberg tidak menciptakan Facebook, bagaimana kita bertemu?

Jika profile pictureku saat itu tanpa lesung pipi, apa yang menarikmu?

Jika sore di bulan puasa saat itu tidak aku balas message pertama darimu, bagaimana seterusnya?

Jika dua tahun lalu di suatu sore tidak aku gerakan jariku untuk mengklik icon confirm, apalagi yang akan kau lakukan?

Jika... Jika... Jika... Ya, jika.

Tapi beginilah sekarang. Agak sedikit sungkan mengakui bahwa ini semua akibat jejaring sosial yang biasa dipakai pria hidung belang untuk menjerat gadis belia polos (atau bodoh) bernama Facebook. Norak? Ya sudah, memang kenapa? Mungkin ini memang caranya. Peduli setan dibilang apa.

Bagaimana mencuri hatiku? Ingat-ingat lagi! Mudahkan?! Sangat mudah! Mudah, lagi-lagi ini jalan yang memang sudah dipilihkan untuk ditempuh. Hanya dengan membuatku tertawa, menghibur sedihku, kekonyolan yang manis, sedikit pujian, membuatku merasa ada, ditambah kegigihan yang tidak surut, apalagi ya? Kamu yang lebih tau... Lalu, sekejap dengan lugu kuberikan hatiku padamu.

Dari awal aku sampaikan, ini kali pertama. Jadi, aku memintamu untuk membimbingku. Sejauh ini banyak yang sudah aku pelajari. Walau masih juga aku menjadi murid terbodohmu, mungkin. Murid ini terlalu kritis untuk menerima begitu saja semuanya. Harus tau alasan dibalik setiap hal. Kadang memang mengganggu. Tapi terima kasih untuk segala kesabarannya. Masih banyak yang aku buta, kelas masih panjang. Kelas penyesuaian.

Hal sederhana yang berhasil aku temukan jawabannya selama ini adalah alasan seseorang bisa kesal hanya karena tiga hari tidak dihubungi. Oke, dulu aku sering menyepelekan. "Kenapa sih Si Anu bete banget, cuma tiga hari gak ditelepon sama Si Itu aja uring-uringan?". Duuuwaaar!!! "Tau kan lo sekarang gimana rasanya!!!". Yah, semacam itu lah salah satunya.

Sepatutnya di sini aku juga sampaikan maaf yang sangat sangat kepada kamu. Untuk apa? Karena beberapa hari belakangan ini aku terkesan terobsesi dengan hari ini. Minta segala ketemuan yang justru membebani kamu yang sedang banyak urusan. Aku sudah paham, tidak ada esensi berarti dibalik hari ini. Toh tahun sebelumnya juga tidak ada yang kita lakukan. Bahkan ingat pun tidak.

Itu hanya karena lagi kumat manjanya aja. Ingin rasain gimana kaya yang dirasain orang-orang. Enggak banget kan? Ya, aku tau. Otak aku lagi bodoh aja mungkin. Lagi rela dikonstruksi oleh media dan lingkungan. Jadi, sekali lagi maaf ya atas ketidaknyamanan beberapa hari belakangan ini.

Sudah, begitu saja. Kalau semakin panjang nanti tulisanku semakin tajam, semakin menyebalkan. Oiya, karena mengambil hatiku tidaklah sulit, sangat mudah dan berbiaya rendah, lakukanlah sering-sering. Bisa ada bonusnya, loh! Hahaha. Aku bersyukur atas kejadian dua tahun silam dan segala yang terjadi selama dua tahun ini.

Singkatnya, terima kasih, maaf, dan mohon kerja samanya!!!!


Ps: Terima kasih hari ini sudah disempetin mampir. Aksaykambang, mu... =)


(Rabu malam. Jika ada umur ada jodoh ada waktu dan kesempatan, sampai jumpa akhir bulan. Rindu)



10 Jan 2011

Tak Henti


Malam, jangan pendam bayangku dalam gelapmu
Biarkan remang sajikan gelap dan terang
Hanya kala malam, berjinjit mengintip
Tumpukan letih geliat hari sisakan celah
Jelajahi malam antarkan lelap

Pagi, jangan hapus jejak bayangku tadi malam
Sorot segala sisi hanya tinggalkan terang
Diam, menanti siang sedikit lengah
Geliat hari berjejalan penuhi celah letih
Terobos terang semangati peluh

(Senin dini hari. Menanti kumandang subuh membuka hari)

2. Tatap

Aku suka tatap tajam dengan lugu mengusir ragu dan menoreh ketulusan dalam relung gelisah yang lembut namun tak berpaling, kala ramai tak hanya sunyi.

(10 Januari 2011)