22 Des 2010

21. Saat

Aku suka saat menulis ini kamu ada di sampingku, membuat tangan kiriku tak berdaya untuk bergerak ganti posisi karena terhimpit lengan dan tubuhmu --pulas, lelap dan mendengkur-- di jok belakang laju taksi menerjang malam dalam rintik.

(22 Desember 2010)

21 Des 2010

Oh... la.. la.. Cinta itu Sengit

Aku tak suka kau tak juga berhenti merokok
Aku tak suka kamu tak suka aku merokok
Aku tak suka kamu selalu bangun kesiangan
Aku tak suka kamu tak suka aku kesiangan
Aku tak suka mukamu ditekuk cemberut
Aku tak suka kamu tak suka aku cemberut
Aku tak suka kamu wek wek wek wek wek cerewet
Aku tak suka kamu tak suka aku cerewet
Cinta itu sengit
Kita tarik-menarik

(Cinta itu Sengit - Indie Art Wedding)

Tentang Aku Suka

Biasanya aku mencari ragu, menemukan pembenaran. Mencari ragu yang lain, temukan pembenaran lainnya. Tidak ada habisnya. Lalu kudengar ada yang berkata; kau cari sempurna?



Sekali lagi kuintipi setiap celah dalam diri. Apa menariknya dengan celah? Apa kamu tidak terusik? Kenapa kau terima? Kenapa tidak minta ditambal? Kamu bilang; Lihat sayang, aku pun bercelah.

Celah kita bukan lubang pada balon yang membuatnya lenyap dalam sekali letus. Hanya lubang pada kain tipis bercorak yang jika tertiup angin akan tersamarkan, bukan disembunyikan. Lubang yg membiarkan bernapas. Celah kita membuat kita tetap bernapas, tidak menyainginya- Dia adalah Dia dan hanya Dia yang tanpa celah.

Saat ini aku akan membuat penghiburan sendiri menjelang kenaikan kelas kita. Semacam kilas balik. Kita tidak akan merayakannya. Aku yakin tidak akan. Seperti sebelumnya. Tidak pernah ada perayaan atas itu. Kita tidak butuh (mungkin). Maka, biarkan aku merayakannya untuk diriku atas dirimu.

Melihat setiap corak indah dirimu, mengabaikan celahmu. Seperti yang kau lakukan padaku. Membuatku lebih berterima kasih atas segalanya. Biarkan aku mengingat kembali setiap untaian alasan euthopis yang membuatku disini dan bertahan duduk manis. Dalam satu bulan, aku hanya akan berkata "Aku Suka".


(Selasa pagi, masih menggali aku suka)

22. Berargumen

Aku suka berargumen denganmu dalam pembicaraan tentang hidup dan masa depan. Semacam serius. Aku, bukan satu dari mereka. Aku di luar dugaanmu. Mari biarkan otak kita saling mengenal, berkolaborasi lalu menjalin silaturahmi.

(21 Desember 2010)

20 Des 2010

"In a relationship you have to accept the other person for all of who they are and not just the parts that are easy to like, and your stupid if you turn back on something important as... love." 
(Valentine's Day, 2010)

Nafkah

"Keru... puk... Kerupuk!!!"
"Keru... puk... Kerupuk!!!"

Begitulah suara yang terdengar saat dia berkeliling menjelajahi perumahan dan kampung-kampung bersama tongkat setianya. Tongkat yang membimbingnya pada setiap kelok maupun lekuk-lekuk seksi jalanan yang tidak rata ini. Ujung tongkat adalah matanya. Mata yang membawanya berkeliling mencari penghidupan.

Konon karena panas tinggi yang di deritanya, kini matanya benar-benar hanya cekungan hitam yang gelap karena sudah tidak lagi melihat warna-warni dunia. Ya, pedangan kerupuk palembang yang berkeliling di perumahan saya adalah seorang tuna netra. Dia tinggal di kampung dekat perumahan, bersama istrinya yang juga buta dan seorang anak laki-laki yang berkat kekuasaan-Nya diberkahi sinar di matanya. Sinar untuk menceritakan dunia kepada orang tuanya.

Sementara kemarin sore saya menyaksikan seorang pria paruh baya yang bertubuh bugar berkeliling memanggul karung kain yang sepertinya berisi beras pemberian mereka yang terlalu mudah iba. Tubuh dia bugar, dan wajahnya bukan wajah baru. Bertahun-tahun dia sudah berkeliling sekitar perumahan untuk mencari belas kasihan mereka yang 'bodoh'.

Sungguh, tak ada iba baginya. Pengemis dengan wajah sinis dan seperti akan mengeluarkan taring jika kau tidak memberinya lembaran pecahan kecil maupun besar atau sekaleng kecil beras. Tidak! Bagi saya dia hina. Maaf. Mengemis adalah upaya mudah baginya untuk bertahan hidup dengan tubuh sehatnya. Tanpa harga diri, menjatuhkan diri lebih dalam dalam ketiadaan, demi uang. Mungkin tetap halal. Gak tau juga deh tapinya.

Kontradiksi ya? Si sehat yang mengemis dan si buta yang berjualan. Sama-sama mencari sedikit pengharapan untuk hari esok, hanya saja beda nilainya. Saya lebih menghargai mereka yang berusaha, bukan mencari iba. Mereka yang tidak dicacatkan oleh keadaan dari pada mencacatkan diri yang ditakdirkan normal.

Kicrik... Kicrik... Kicrik!!!
Kicrik... Kicrik... Kicrik!!!

Begitulah suara kaleng susu bekas yang diisi batu. Suara menjajakan jasa pijat yang biasa saya dengar berkeliling perumahan di malam hari. Pedagang kerupuk itu menjelma jadi tukang pijat di malam hari. Sekali lagi tanpa kenal waktu. Ya... Toh siang maupun malam baginya tidak beda. Gelap. Mungkin kali ini demi satu hal, anak laki-laki semata wayangnya yang bisa melihat dunia.



(Senin pagi, standing applause untuknya)

23. Bagian

Aku suka bagian "Now you want to be free, so I'm letting you fly. Cause you know in my heart, babe... Our love will never end" dari penggalan Always Be My Baby-nya David Cook. Itu yang meluluhkan sekaligus meyakinkan aku pada saat itu. You know I love you... x.o.x.o. ;)

(20 Desember 2010)