17 Des 2010

Rapunzel Pasti Gemini


"Dia pasti gemini. Hwaahaahaahaaa"

Aku ingat, begitulah kamu, sang gemini, bergumam dengan buntut ledakan tawa saat menyaksikan salah satu scene Tangled dimana Rapunzel memiliki suasana hati yang berubah-ubah drastis dengan cepat, mungkin hanya dalam hitungan detik. Suka cita pesta pora lalu tenggelam dalam kelam dasar kesedihan, berulang-ulang seperti disetting dengan menu repeat pada playlist yang berisi dua lagu, sedih dan senang. Kamu, di bangku penonton A1 terpingkal-pingkal menyadari kekonyolan yang sering kamu ciptakan sendiri. Aku di bangku penonton A2 hanya melirik, menaikan satu alis.


(Jumat siang, pilin-pilin rambut, ingat si rambut emas)

Baik Saja Cukup

Lihat aku, mereka sebut aku pesimis. Tak berharap tinggi seolah takut jatuh dari bermimpi. Terlihat pasrah menerima segala celah yang terlihat, tak dapat ditutupi, tanpa tawar menawar, tanpa prasyarat.

Seadanya saja. Ya... Terserahlah mau bilang apa. Hanya mencari yang baik bagiku, bukan yang terbaik diantara yang paling baik menurut kalian. Peduli apa aku dengan lirikan kalian, pandangan sinis tidak lagi membunuhku. Semua ini aku yang rasa.

Kupandangi diriku, dari luar ke dalam, atas ke bawah. Sadar dan tau benar. Aku bukan si nomor satu dengan kualitas super, bukan dambaan jutaan orang. Perlahan... Hatiku membisikan sebentuk kecil harapan untuk bisa menjadi yang baik bagimu, dengan segala celahku. Menjadi yang baik bagimu. Baik bagimu. Semoga. Aku... Berusaha.




Spell for myself, charm for universe:
"I'm the girl your ex will friend with, the girl your mom will love, the girl your friend will hang out with and the girl you'll want to be with forever.
Come true!"
Wooooooofffhhh...


(Memasuki Jumat, memanjatkan harapan yang semoga tidak ketinggian. Aku masih takut jatuh)

26. Disebut

Aku suka disebut "smart". Namun tak kupungkiri "hot" pun membuatku melayang. Hahaha. Busuk!

(17 Desember 2010)

16 Des 2010

Feromon, Bukan Minyak Nyonyong


"Aku suka baumu, khas tubuhmu, bukan wangi parfum mungkin keringat. Tapi sungguh, aku suka baumu. Hanya baumu jika tanpa sengat A Mild terbakar. Asem."

Mungkin aku jatuh cinta gara-gara feromon. Feromon adalah unsur kimia yang tak terlihat yang dilepaskan oleh tubuh manusia, seperti juga apa yang terjadi pada makhluk mamalia lain. Zat ini menjadi pertanda bagi macam-macam hal, termasuk nafsu seksual dan rangkaian genetis dalam tubuh kita. Feromon juga disebut 'aroma seksual untuk ketertarikan'.

Dalam The Lovers' Book dijelaskan bahwa mencium bau seseorang adalah bagian dari proses seleksi, ini berhubungan erat dengan keadaan genetik manusia.

Bau badan kita akan menjadi harum untuk seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang berbeda dari tubuh kita sendiri-nggak romantis banget ya? Teorinya adalah ketika dua tubuh menggabungkan dua buah kadar kekebalan yang berbeda, keturunannya akan menjadi manusia yang lebih kuat dan lebih sehat dibandingkan dengan orang tua mereka. Secara naluriah, inilah tujuan utama di balik ketertarikan seksual kita pada orang lain.

Jadi, lain kali saat menghirup aroma tubuh pasangan (ini mungkin aroma yang paling kamu suka di dunia ini), jangan lupa untuk menghirup feromon miliknya, bukan hanya parfumnya. Feromon inilah yang akan menegaskan bahwa kita berjodoh atau tidak (tergantung apakah hidung pasangan juga 'mengiyakan').

"Kalau aku sih... Suka. Kamu? ;)"

(Kamis malam, mengingat-ingat aroma acem ngangenin. Sniiiff... Sniiff!)

Kematian Sang Roman

Terisak aku di penghujung hari. Mengenang dia yang telah pergi. Entahlah... Kuharap kematiannya tidak abadi. Semoga ini hanya mati suri, atau setidaknya bisa bangkit sebagai zombie.

Juwita malam terlampau sunyi, diiringi nyanyian jangkrik. Belum habis tenagaku untuk dipaksa beristirahat. Tak mungkin jatuh terlelap. Dalam gelap aroma malam menjelajahi kenangan saat kau masih disini. Dingin yang menusuk semakin menyiksa dengan sepi.

Terbawa dalam saat-saat bersamaanmu membuatku semakin terpaku. Tiada terkira kau akan pergi meninggalkannya bersamaku. Awalnya kupikir kalian satu, ternyata keliru. Kematianmu membawa pilu, menyisakan pahit. Sebaliknya, kehadiranmu sangatlah manis, berwarna cerah.

Kamu yang membawa suara kecupan diujung saluran telepon setiap akhir percakapan. Dirimu yang dengan ramah mengamit tanganku di keramaian. Engkau yang melontarkan kata-kata mesra hanya untukku. Kau yang menyuguhkan kehangatan tanpa diminta.

Sungguh, aku merindukanmu yang kini tiada. Aku merindukanmu, roman. Bukan dirinya, tapi keberadaannya yang dulu, dimana kamu menyertai langkahnya saat bersamaku. Bangkitlah dari matimu! Katakan ini hanya tidur panjangmu! Bangun, roman! Bangun!

"Aku rindu..."


(Kamis muda. Kerinduan yang sama... kemana angin membawanya? Tak sampaikah padamu?)

Rival Terkutuk


Cemburu Buta
Kini dia yang selalu bersamamu
Selalu dalam dekap mesra tanganmu
Tak akan lepas dari pandanganmu
Kau tunjukkan pada semua orang
Dia yang penampakannya mirip aku
Tapi tetap bukan (aku lebih hot)
Lebar dari depan, tipis dari samping
Ooooh... iPhone, cemburu aku padamu

Setelah email dengan subjek 'Cemburu Buta' kulayangkan padamu... Malam ini... jempol tanda permusuhan diacungkan, genderang perang ditabuh, dan tanduk di kepalaku mulai tumbuh. Murka.

"Selamat tidur menggenggam hengpon!!!"


(Baru masuk Kamis, contact free day untuk Rabu. Yeay!!! Terima kasih iPhone!)

27. Gombalan

Aku suka gombalan; "Aku suka iPhone soalnya mirip kamu, dari depan lebar dari samping tipis. Hahaha". Paling 'romantis' abad ini. Damn, you! Kutetapkan iPhone sebagai rival. Tanda seru tujuh kali, ngajak perang.

(16 Desember 2010)